| |
Info Terbaru |
Jajak Pendapat |
Statistik |
Visitors : 566141 visitors
Hits : 53804 hits
Month : 755 users
Today : 228 users
Online : 7
users |
|
|
 |
|
Calon TKI Yogya Terkendala Budaya, Hanya Kirim 3.000 orang Rabu, 25 Nopember 09 - oleh : Admin_BI
Kita kerja keras menyadarkan warga Yogya, tidak mungkin hanya mengandalkan lapangan kerja di sini. Kalau mau sukses harus berani menjemput rejeki di luar negeri dengan menjadi TKI,” kata Munir, Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogya
Jakarta, BNP2TKI (24/11) - Penempatan warga Yogya sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri tidak cukup signifikan untuk mengurangi angka pengangguran di kota Gudeg itu. Dari jumlah pengangguran sebanyak 140.000 orang, jumlah penempatan TKI asal Yogyakarta hanya mencapai 3.000 orang saja.
“Jadi hanya sekitar 3-5 persen saja, tidak signifikan untuk mengurangi angka pengangguran di sini,” kata Munir, Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Yogya, di sela-sela Rakornas Bursa Kerja Luar Negeri (BKLN), di Bandung, pekan lalu.
Angka penempatan 3.000 orang itu diakui Munir menunjukkan penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 5.000 – 6.000 orang. Penurunan ini, katanya, terkait erat dengan krisis ekonomi dunia di awal tahun, serta penghentian sementara (moratorium) penempatan TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ke Malaysia.
“Insya Allah kalau moratorium dicabut jumlah penempatan TKI asal Yogya akan kembali meningkat meski tidak cukup banyak,” katanya.
Menurut Munir, sejauh ini ada kecenderungan warga Yogya sudah jenuh untuk menjadi TKI di Malaysia. Mereka cenderung memilih bekerja di negara-negara seperti Taiwan, Hongkong atau Korea. Tapi diakuinya, Malaysia masih menduduki posisi tertinggi dalam penempatan TKI asal Yogyakarta.
Warga Yogya yang bekerja sebagai TKI di luar negeri yang terdaftar di BP3TKI, jelas Munir, umumnya bekerja di sektor formal sesuai policy pemerintah daerah. Jika ada warga Yogya yang menjadi PLRT, Munir memastikan, mereka tidak akan berangkat dari Embarkasi Yogya tetapi melalui Embarkasi Semarang.
Namun demikian diakui Munir, dari sisi sumber daya manusia (SDM), DI Yogya memiliki potensi yang melimpah seiring dengan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan di daerah yang juga dikenal kota pendidikan itu.
Kendala Budaya
Mengenai rendahnya angka penampatan TKI Yogya dibanding jumlah pengangguran, menurut Munir, hal ini terkait dengan kendala budaya dan psikologis para pencari kerja. “Mereka itu masih menganut falsafah mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan asal kumpul), dan hujan batu di negeri sendiri masih lebih baik daripada hujan emas di negeri orang,” ujarnya.
Guna mendobrak pandangan keliru soal penempatan TKI di luar negeri itu, menurut Kepala BP3TKI Yogya itu, pihaknya saat ini tengah gencar melakukan sosialisasi untuk menjadi TKI secara legal dan benar. Selain itu, sosialisasi juga dilakukan agar warga Yogya tidak hanya melihat berita-berita buruk soal TKI, karena sesungguhnya TKI yang bermasalah tidak lebih 10 persen disbanding TKI yang sukses.
“Kita kerja keras menyadarkan warga Yogya, tidak mungkin hanya mengandalkan lapangan kerja di sini. Kalau mau sukses harus berani menjemput rejeki di luar negeri dengan menjadi TKI,” pungkas Munir.(e) kirim ke teman | versi cetak
Tidak ada komentar tentang artikel ini.
Formulir Komentar
|
|
 |
|
|
|